Minggu, 17 Juli 2011

4 Racun yang Mematikan Hati

Waspadai 4 Racun yang mematikah Hati
yaitu Banyak Bicara,Banyak Makan,Banyak Bergaul dan Banyak Memandang

‎1. Banyak bicara
Seperti kata pepatah, “Lidah tidak bertulang”. Maka tidak jarang apa-apa yang keluar dari lidah akan membuat pemiliknya terjerumus ke dalam dosa. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan ummatnya untuk menjaga lisannya. Karena lisan seorang manusia yang tidak terjaga akan membawanya ke dalam Neraka.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada Shahabat Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, “Maukah kamu aku beritahukan kunci dari semua itu?” Aku (Mu’adz) menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah memegang lidahnya dan berkata, “Peliharalah ini!” Aku pun bertanya, “Wahai Nabi Allah, benarkah kita akan disiksa karena pembicaraan kita?” Rasul menjawab, “Ibumu kehilanganmu[1], Mu’adz! Bukankah manusia itu diseret ke Neraka pada wajah-wajah mereka atau hidung-hidung mereka hanya disebabkan oleh buah perkataan mereka?”[2]
Yang dimaksud dengan buah perkataan dalam hadits di atas adalah balasan atas perkataan yang haram dan berbagai akibatnya. Dengan berbicara dan beramal seseorang telah menanam kebaikan atau keburukan. Dan di hari Kiamat nanti, ia akan menuai buah hasil dari perkataan dan perbuatannya di dunia. Barang siapa menanam kebaikan maka ia akan menuai karomah. Dan barang siapa menanam keburukan maka ia akan menuai penyesalan.
Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, artinya:
“Yang paling banyak menjerumuskan manusia ke Neraka adalah dua lubang; mulut dan farji’ (kemaluan).”[3]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Sesungguhnya ada seseorang yang mengucapkan kalimat yang tidak jelas tetapi karenanya ia terjerembab di Neraka, lebih jauh dari jarak Timur hingga Barat.”[4]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah bersabda, artinya:
“Barang siapa yang memberi jaminan untuk menjaga apa yang ada di antara kedua jenggotnya (lisan) dan dua paha (farji’) aku jamin baginya Surga.”[5]
Dan sabdanya juga, yang artinya:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”[6]
Hadits ini memuat perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berbicara yang baik-baik saja dan diam dari selainnya. Khitab (pembicaraan) itu hanya ada dua; yang setiap hamba diperintahkan untuknya, dan selainnya, yang setiap hamba diperintahkan diam darinya.
Bencana lisan yang paling sedikit mudharatnya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Merupakan tanda baiknya keislaman seseorang jika ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya.”[7]
Apa yang telah disebutkan di atas adalah bencana lisan terkecil mudharatnya. Lalu bagaimana dengan ghibah, namimah, kata-kata yang bathil dan keji, kata-kata yang mengandung dua makna, perdebatan, pengaduan, nyanyian, kedustaan, menyanjung-nyanjung, mengolok-olok, penghinaan, kekeliruan dalam pembicaraan dan yang lainnya, yang semuanya adalah bencana yang menimpa lisan seorang hamba untuk seterusnya merusak hatinya, dan juga menghilangkan kebahagiaan dan kesenangan yang ia rasakan di dunia dan menghilangkan keberuntungan dan kemenangan di akhirat. Allahul musta’an.
‎2. Banyak makan
Sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya fikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan hal yang sebaliknya.
Miqdam bin Ma’d Yakrib berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, artinya:
“Tidak ada bejana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.”[8]
Berlebihan dalam makan akan mengakibatkan banyak hal buruk. Ia akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan berbagai kemaksiatan serta menjadikannya merasa berat untuk beribadah. Dan dua hal ini sudah merupakan hal yang akan membawa kepada keburukan. Berapa banyak kemaksiatan yang bermula dari keadaan kenyang dan berlebihan dalam makan. Berapa banyak pula keta’atan dalam keadaan sebaliknya. Barang siapa dapat menjaga keburukan dari perutnya, maka ia telah menjaga diri dari keburukan yang besar.
Ibrahim bin Adham berkata[9], “Barang siapa memelihara perutnya akan terpelihara dirinya. Barang siapa mampu menguasai rasa laparnya akan memiliki akhlaq yang baik. Sesungguhnya kemaksiatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla itu jauh dari seorang yang lapar dan dekat dari seorang yang kenyang.”
‎3. Banyak bergaul
Bergaul secara berlebihan akan membawa kerugian di dunia dan akhirat. Apabila tata cara dan tata krama dalam pergaulan tidak diperhatikan lagi, maka ia akan dapat menuai berbagai permusuhan. Di dalamnya akan tersimpan berbagai penyakit berbahaya yang jika dibiarkan maka ia akan dapat mematikan pada suatu saat.
Dalam bergaul, hendaknya kita dapat mengklasifikasi manusia menjadi empat kriteria. Ketidakmampuan kita dalam membedakan masing-masing kriteria dapat membawa kepada kerugian di dunia dan akhirat.
1. Kelompok pertama adalah orang-orang yang setia kepada Allah ‘Azza wa Jalla, kitab-Nya, Rasul-Nya, dan seluruh kaum muslimin. Bergaul dengan mereka adalah keuntungan yang besar.
2. Kelompok yang bergaul dengan mereka seperti mengkonsumsi obat. Ia dibutuhkan di kala sakit. Selama kondisi sehat, tidak akan ada yang bergaul dengan mereka. Mereka adalah para ahli dalam urusan mu’amalat, bisnis dan yang semisalnya. Anda harus bergaul dengan mereka, jika Anda ingin urusan ma’isyah Anda lancar.
3. Kelompok yang bergaul dengan mereka berarti mengkonsumsi bakteri dan virus-virus penyakit. Ada yang menimbulkan penyakit ganas dan memakan waktu yang lama untuk dapat disembuhkan. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa keuntungan dan manfaat dunia dan akhirat. Mereka hanya membawa kerugian dan kemudharatan, sehingga jika Anda bergaul dengannya, maka dia bisa membunuh Anda dengan bakteri dan virus-virus mematikan yang dia bawa.
Tapi ada juga penyakit yang lebih ringan. Mereka adalah orang-orang yang tidak baik bicaranya dan tidak pula memberi manfaat. Mereka hanya bisa mengambil manfaat dari orang lain. Ketika mereka berbicara, kata-kata yang keluar dari lisannya ibarat sembilu yang mengiris hati orang-orang yang mendengarnya. Namun, ia tetap bangga dengan ucapannya. Ia berlaku demikian terhadap siapa saja yang bergaul dengannya dan menyangka ia sedang menebar minyak wangi dengan ucapannya. Ia ibarat sebongkah batu besar yang tidak ada seorang pun yang mampu mengangkatnya dan tidak juga merubah keadaannya.
4. Kelompok yang bergaul dengan mereka adalah kebinasaan total. Mereka ibarat bisa ular dan racun berbahaya lagi mematikan urat saraf. Jika seseorang memakannya dengan tidak sengaja, maka ia telah menelan sebuah kerugian. Mereka adalah ahli bid’ah dan ahlul hawa’. Mereka adalah orang-orang yang berada dalam garis depan penghalang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka senantiasa menyeru kepada kesesatan, fitnah-fitnah bathil dan berbagai syubhat yang telah mereka bungkus dengan kata-kata yang indah lagi merayu-rayu. Mereka melabel bid’ah sebagai sunnah dan mengganti label sunnah dengan bid’ah. Sehingga tidaklah patut bagi orang-orang yang memiliki akal-akal yang sehat untuk ikut bergaul dengan mereka. Karena mereka tidak akan membawa sesuatu kecuali kesesatan dan kebinasaan.


‎4. Banyak memandang
Mata seringkali disebut sebagai jendela hati. Karena apa-apa yang indah dipandang mata, maka hati pun akan ikut mengaguminya. Tetapi, mata yang diciptakan untuk melihat sekalipun, tetap harus memiliki batasan-batasan dalam memandang. Janganlah sekali-kali kita membiarkan pandangan kita lepas dan berkeliaran di luar kendali, karena itu akan berakibat buruk.
1. Pandangan adalah panah iblis.
Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman dalam sebuah ayat di kitab-Nya yang mulia, yang artinya:
“Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. an-Nuur: 30)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, artinya:
“Wahai ‘Ali, janganlah pandangan pertama kau ikuti dengan pandangan berikutnya. Untukmu pandangan pertama, tetapi bukan untuk berikutnya.”[10]
Diriwayatkan pula dari Jabir bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, artinya:
“Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang memandang tanpa sengaja, maka beliau memerintahkanku untuk memalingkan pandanganku.”[11]
2. Syaithan akan menjadikan objek pandangan sebagai berhala dalam hati.
Syaithan memasukkan pengaruh buruknya ke dalam diri seseorang melalui pandangan mata dan sesungguhnya masuknya syaithan dari jalan ini melebihi kecepatan aliran udara masuk ke dalam ruang hampa. Syaithan akan memperindah wujud yang dipandang dan menjadikannya berhala tautan hati. Kemudian, ia mengobral janji dan angan-angan. Setelah itu ia nyalakan api syahwat dan dilemparkannya kayu bakar maksiat, sehingga seseorang itu jatuh ke dalam lubang dosa.
3. Pandangan itu menyibukkan hati.
Terlalu banyak memandang akan menjadikan hatinya tertawan dengan hal-hal yang dipandangnya. Sehingga akan membuatnya lupa dari urusan-urusan yang bermanfaat. Dia menjadi lalai dan senantiasa mengikuti hawa nafsunya, sehingga urusannya menjadi kacau dan tidak terkendali. Allah ‘Azza wa Jalla telah berfirman, yang artinya:
“Dan janganlah kamu ta’at kepada orang yang telah Kami lalaikan hatinya dari dzikir kepada Kami dan mengikuti hawa nafsunya serta urusannya menjadi kacau balau.” (QS. al-Kahfi: 28)
Demikianlah bahwa melepaskan pandangan secara liar akan mengakibatkan tiga bencana ini. Sementara menjaganya akan membawa keuntungan di dunia dan akhirat.
Para pakar akhlaq bertutur, “Antara mata dan hati memiliki kaitan yang erat. Bila mata telah rusak dan hancur, maka hati pun akan ikut rusak dan hancur. Hati seperti ini ibarat tempat sampah yang berisikan segala najis, kotoran dan sisa-sisa yang menjijikkan. Ia tidak layak dihuni oleh ma’rifatullah, mahabbatullah, inabah kepada-Nya, ketundukan kepada-Nya dan kegembiraan ketika merasa dekat dengan-Nya. Penghuninya adalah hal-hal yang menjadi kebalikan dari itu semua.”
Melepaskan pandangan pun akan menjadikan hati buta, tidak dapat membedakan antara yang haq dan yang bathil, antara yang sunnah dan yang bid’ah, dan antara kebaikan dan keburukan. Tunduknya pandangan karena Allah akan membuahkan firasat yang benar yang dapat menjadi pembeda. Barang siapa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla, niscaya Allah akan mencemerlangkan cahaya bashirahnya.

Itulah racun-racun mematikan bagi hati. Maka sudah menjadi tugas harian bagi kita untuk membuat hati kita terhindar dari racun-racun tersebut. Karena bila hati telah bersinar, maka berbagai amal kebaikan akan berdatangan dari berbagai penjuru untuk dilaksanakan. Sebagaimana bila ia berada dalam kegelapan maka berbagai bencana dan keburukan pun akan berdatangan dari berbagai tempat.

Yaa Muqollibal qulub, tsabit qulubana 'ala diniik.
Yaa Mushorifal qulub, shorif qulubana 'ala tho'atik.

Wallahu a'lam bish showab.
Catatan kaki:
[1] Kalimat yang biasa digunakan untuk menekankan suatu masalah.
[2] Riwayat at-Tirmidzi (al-Iman VII/362) dan al-Hakim dalam al-Mustadrak fi at-Tafsir (VI/142), shahih sesuai dengan syarat Bukhari-Muslim.
[3] Riwayat at-Tirmidzi (al-Birr wash Shilah VI/142). Beliau berkata, “Hadits ini shahih gharib.” Juga al-Hakim dalam al-Mustadrak fi Raqa’iq (IV.324).
[4] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308) dan Muslim (az-Zuhd XVIII/117).
[5] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308 dan al-Hudud XII/113) dari Sahl bin Sa'd.
[6] Riwayat Bukhari (ar-Raqa’iq XI/308) dan Muslim (al-Iman II/18).
[7] Hadits Shahih, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi (az-Zuhd VI/607), Ahmad (al-Musnad I/201). Dalam tahqiq Musnad, Syaikh Ahmad Syakir mengatakan, isnadnya shahih.
[8] Hadits shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad (IV/132), at-Tirmidzi (az-Zuhd VII/51) dengan sedikit perbedaan redaksi. Al-Hakim mengatakan, “Hadits ini isnadnya shahih. Hanya saja Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.” Adz-Dzahabi sepakat dengan al-Hakim (IV/331).
[9] Tazkiyatun Nafs, Ibnu Qayyim al-Jauziyah.[10]Riwayat Abu Dawud (an-Nikah VI/186), at-Tirmidzi (al-Adab VIII/61), dinyatakan shahih oleh al-Hakim sesuai dengan syarat Muslim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi (II/194).
[11]Riwayat Muslim (al-Adab XIV/138).

Senin, 11 Juli 2011

Pertanyaan Cerdas Sang Arab Badui

analogi gurun sahara






Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahihnya :
Amr bin Muhammad bin Bukair an-Naqid menuturkan kepadaku. Dia berkata; Hasyim bin al-Qasim Abu an-Nadhr menuturkan kepadaku. Dia berkata; Sulaiman bin al-Mughirah menuturkan kepadaku dari Tsabit dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu, dia mengatakan; Dahulu kami pernah dilarang untuk bertanya tentang apa saja kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam oleh sebab itu kami merasa senang apabila ada orang Arab Badui yang cukup berakal datang kemudian bertanya kepada beliau lantas kami pun mendengarkan jawabannya.
Maka suatu ketika, datanglah seorang lelaki dari penduduk kampung pedalaman. Dia mengatakan, “Wahai Muhammad, telah datang kepada kami utusanmu. Dia mengatakan bahwasanya anda telah mengaku bahwa Allah telah mengutus anda?”. Maka Nabi menjawab, “Dia benar.” Lalu arab badui itu bertanya, “Lalu siapakah yang menciptakan langit?”. Beliau menjawab, “Allah.” Lalu dia bertanya, “Siapakah yang menciptakan bumi?”. Nabi menjawab, “Allah.” Dia bertanya lagi, “Siapakah yang memancangkan gunung-gunung ini dan menciptakan di atasnya segala bentuk ciptaan?”. Nabi menjawab, “Allah.” Lalu arab badui itu mengatakan, “Demi Dzat yang telah menciptakan langit dan yang menciptakan bumi serta memancangkan gunung-gunung ini, benarkah Allah telah mengutusmu?”. Maka beliau menjawab, “Iya.”
Lalu dia kembali bertanya, “Utusanmu pun mengatakan kepada kami bahwa kami wajib untuk melakukan shalat lima waktu selama sehari semalam yang kami lalui.” Nabi mengatakan, “Dia benar.” Lalu dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah memerintahkanmu dengan perintah ini?”. Nabi menjawab, “Iya.” Lalu dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami berkewajiban untuk membayarkan zakat dari harta-harta kami?”. Nabi mengatakan, “Dia benar.” Dia berkata, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang telah menyuruhmu untuk ini?”. Beliau menjawab, “Iya.” Dia mengatakan, “Dan utusanmu juga mengatakan bahwa kami wajib berpuasa di bulan Ramadhan di setiap tahunnya.” Nabi mengatakan, “Dia benar.” Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah telah menyuruhmu dengan perintah ini?”. Beliau menjawab, “Iya.” Dia mengatakan, “Utusanmu pun mengatakan bahwa kami wajib untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukaan perjalanan ke sana.” Nabi menjawab, “Dia benar.” Dia mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu, benarkah Allah yang memerintahkanmu dengan ini?”. Nabi menjawab, “Iya.”
Anas mengatakan; Kemudian dia pun berbalik seraya mengatakan, “Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan menambahkan selain itu dan aku juga tidak akan menguranginya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau dia benar-benar jujur/konsisten niscaya dia akan masuk surga.” (Diriwayatkan juga oleh Bukhari dalam Kitab al-’Ilm, bab maa jaa’a fi qaulihi ta’ala, ‘Wa qul Rabbi zidni ‘ilman’, hadits no 63, lihat Shahih Muslim cet ke-4 Darul Kutub Ilmiyah 1427 H, hal. 29)
Di antara faedah hadits ini, adalah :
  1. Penetapan kebenaran risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
  2. Syariat itu berlaku apabila telah sampai ilmu kepada orang yang bersangkutan
  3. Adanya udzur/toleransi bagi orang yang belum sampai ilmu kepadanya
  4. Di dalam hadits ini juga terkandung pelajaran mengenai rihlah fi thalabil ilmi/menempuh perjalanan dalam rangka menimba ilmu agama
  5. Di dalamnya juga terkandung ajaran untuk kembali kepada para ulama dan sering-sering bergaul dengan mereka
  6. Kebanyakan orang arab badui itu tidak mengerti dan kurang sopan
  7. Orang arab badui saja mengerti bahwa alam semesta ini ada penciptanya, maka ini merupakan bantahan telak bagi para penganut paham anti tuhan atau athheis
  8. Di dalamnya juga terdapat bantahan bagi kaum yang meyakini paham wahdatul wujud
  9. Dzat yang menciptakan alam semesta itulah yang berhak untuk diibadahi
  10. Semestinya seorang murid menyusun pertanyaan dengan baik
  11. Tanya-jawab merupakan salah satu metode transfer ilmu yang paling bermanfaat
  12. Pembelajaran secara bertahap
  13. Ilmu sebelum berkata dan berbuat
  14. Bersumpah harus dengan menyebut nama Allah bukan dengan nama makhluk, dan hal itu pun dipahami oleh orang Arab Badui sekalipun
  15. Bolehnya bersumpah tanpa diminta
  16. Bolehnya mencari sanad yang lebih tinggi
  17. Di dalamnya juga terkandung ajaran untuk mengecek kebenaran suatu berita
  18. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di samping mmerintah, beliau juga diperintah
  19. Disyariatkannya mengutus utusan dakwah ke berbagai tempat
  20. Berdakwah harus dengan ilmu
  21. Tidak bolehnya taklid buta
  22. Wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  23. Keharusan untuk taslim/pasrah kepada syari’at beliau
  24. Diterimanya hadits ahad dalam masalah aqidah maupun hukum dan beramal dengannya
  25. Shalat lima waktu itu dikerjakan secara berulang-ulang di setiap sehari semalam
  26. Hadits ini menunjukkan bahwa shalat witir tidaklah wajib
  27. Tidak adanya kewajiban pungutan pajak bagi setiap muslim
  28. Puasa Ramadhan wajib dikerjakan dis etiap tahunnya
  29. Hadits ini juga menunjukkan bahwa kaum muslimin awam dari kalangan para muqallid adalah termasuk kaum mukminin, yaitu apabila mereka telah meyakini aqidah Islam ini dengan mantap dan tidak ragu-ragu
  30. Dengan menunaikan kewajiban syari’at maka seorang bisa masuk ke dalam surga
  31. Amal merupakan sebab masuk ke dalam surga, namun dia bukanlah harga tukar yang seimbang untuk surga
  32. Iman itu meliputi keyakinan, ucapan, dan perbuatan, bisa bertambah dan berkurang. Ini merupakan bantahan bagi Murji’ah, Jahmiyah, Khawarij dan Mu’tazilah
  33. Ibadah itu ada yang wajib dan ada yang sunnah
  34. Ibadah yang diwajibkan Allah itu beraneka ragam, tidak hanya satu macam
  35. Ibadah yang wajib ada yang bersifat harian, dan ada juga yang tahunan, bahkan ada yang sekali seumur hidup
  36. Hukum di dunia ditegakkan berlandaskan apa yang tampak/menurut zahirnya
  37. Masuk surga atau tidaknya seseorang ditentukan oleh Allah ta’ala yang hanya Allah yang paling mengetahuinya
  38. Surga itu benar adanya
  39. Hendaknya menyesuaikan antara ucapan dengan amal perbuatan
  40. Di dalamnya terdapat peringatan dari bahaya kemunafikan
  41. Yang akan masuk surga hanyalah orang muslim saja, orang kafir tidak berhak
  42. Hadits ini juga menunjukkan keutamaan ahli hadits
  43. Hadits ini menunjukkan keutamaan orang yang langsung belajar Islam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
  44. Hadits merupakan sumber ajaran Islam selain Kitabullah
  45. Hadits merupakan penafsir bagi al-Qur’an
  46. Hadits ini juga menunjukkan pentingnya aqidah
  47. Aqidah merupakan landasan penegakan hukum, untuk individu maupun masyarakat
  48. Dan faedah lain yang belum saya ketahui, wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa shahbihi wa sallam, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi
Artikel www.muslim.or.id